IKKON Selenggarakan Showcase dan Presentasi Purwarupa Bertajuk “I Yayat U Santi: The Story of Minahasa’s Highland Warrior”

Rabu (11/9) kemarin, tim IKKON telah menyelenggarakan showcase “I Yayat U Santi: The Story of Minahasa’s Highland Warrior” di Amphitheater Woloan, Tomohon Barat. Showcase ini juga ditujukan sebagai presentasi progres karya tim IKKON setelah menjalani tiga kali perjalanan di Tomohon. Pertunjukan kemarin masih merupakan purwarupa, hasil akhirnya baru akan dipentaskan bulan November nanti dalam pameran akhir IKKON Tomohon.


Acara yang diselenggarakan sejak pukul 16.00 WITA hingga matahari terbenam tersebut adalah hasil kerjasama antara tim IKKON Tomohon, pengelola Amphitheater Woloan, dan pihak Kecamatan Tomohon Barat.
Pertunjukan I Yayat U Santi adalah salah satu kanal utama dari produk IKKON Bekraf di Tomohon. Dalam format pertunjukan multi-disiplin, I Yayat U Santi bisa dibilang merupakan hasil pembacaan ulang dari legenda Waraney di Minahasa kuno. Mereka adalah para pejuang gunung yang bertugas melindungi suku dari segala ancaman luar. Pertunjukan tiga babak ini menggabungkan seni tari, paduan suara, dan film dalam nuansa etnik-magis dengan pendekatan kontemporer.

Pertunjukan ini melibatkan sembilan penari muda dan kelompok paduan suara serta komunitas film di Tomohon yang berkolaborasi dengan tim IKKON untuk menyuguhkan sebuah kreasi budaya dalam bentuk paling mumpuninya. “Ini merupakan pembacaan ulang dari legenda yang udah ada di Minahasa ya, tapi memang pengembangan karyanya kontemporer. Semoga bisa jadi suguhan yang menarik, megah tapi tetap terasa soul Minahasanya,” terang Otniel Tasman, koreografer yang didapuk jadi sutradara pertunjukan ini. Unsur paduan suara gereja memang dilibatkan dalam pertunjukan sebagai simbol relasi harmonis antara agama Kristen Protestan maupun Katolik yang jadi mayoritas di Tomohon, dengan adat dan tradisi kuno yang diwarisi dari leluhurleluhur Minahasa. “Tidak ada tujuan menyesatkan atau merendahkan baik sisi agama maupun budaya, kami mengintegrasikan dua unsur itu justru agar dunia bisa melihat bagaimana Minahasa itu sangat terbuka dan dinamis,” ujar Titah AW, antropolog tim IKKON kepada AmazingTomohon.com


Acara kemarin dihadiri beberapa ratus warga Woloan Raya dan tamu undangan yang berasal dari tokoh budaya dan jajaran pemerintahan. Dibuka dengan sidang adat komunitas adat Woloan yang mengusung suku Toumbulu dan pemukulan Tetengkoran Massal, acara dilanjutkan dengan penampilan tari Kawasaran massal. Baru ketika matahari mulai turun dan menyisakan siluet Gunung Lokon yang kokoh, pertunjukan “I Yayat U Santi” dimulai. Pentas purwarupa “I Yayat U Santi” memakan waktu sekitar 45 menit. “Kami bangga sekali IKKON telah mengangkat budaya asli Minahasa, meski masih prototype dan masih harus disempurnakan. Kami akan terus mendukung, agar pentas ini dibawa hingga ke dunia internasional,” ujar Jimmy F. Eman, Walikota Tomohon sesaat setelah gemuruh tepuk tangan menyudahi pementasan purwarupa “I Yayat U Santi”. Selain pertunjukan seni ini, kanal produk IKKON yang lain akan mengangkat desain rumah kayu Woloan dalam konsep tiny house yang cocok untuk pasar urban. Selain itu, juga ada beberapa produk lain seperti aksesoris mode, berbagai produk home living, dan musik yang kesemuanya akan berkesinambungan dengan karakter Minahasa yang telah dirumuskan oleh tim IKKON. IKKON (Inovatif Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara) merupakan program live in designer dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia yang ditujukan untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif di suatu kota. Semua hasil akhir tim IKKON Tomohon nanti akan dipamerkan dalam acara puncak yang rencananya akan diselenggarakan pada bulan November nanti.

  • oleh: Titah AW (Antropolog IKKON)
  • foto oleh: Teguh Priyatna (fotografer IKKON)
  • Kontak: Robert Antonius (mentor IKKON Tomohon) – 081235248921

I Yayat U Santi: The Story of Minahasa’s Highland Warrior

Synopsis:
Dua matanya nyalang mengawasi sekeliling. Di pedangnya, darah musuh telah berkerak mengering. Kepingan jejak lawan yang berhasil ia taklukkan menempel di baju merah kebesarannya. Lonceng-lonceng di kakinya bergemerincing seiring hentak dan lompatan yang ia buat. Tubuhnya awas, instingnya siaga. Ada yang harus dijaga. Nenek moyang telah meniupkan jiwa api pada sukmanya. Warisan pejuang gunung yang tak bisa ia pungkiri, masa lalu yang menitis pada generasinya. Dari tiap darah yang mengalir di tubuhnya, sesuatu telah tersingkap: Spirit Waraney telah merasuk dalam dirinya. Namun rimba kian tiada, musuhnya tak lagi mewujud, satu per satu waruga rubuh, sementara nasihat moyang dan nyanyian manguni terdengar makin lirih. Waktu telah membawa semestanya berjalan begitu jauh, sementara segala yang datang dan pergi tak lagi dapat ditangguh. Di tanah Minahasa yang terus berubah ini, bagaimana waraney memaknai hidup dan perannya?


I Yayat U Santi adalah pertunjukan multi-disiplin yang terinspirasi dan merupakan pembacaan ulang dari legenda Waraney di Minahasa kuno. Mereka adalah para pejuang gunung yang bertugas melindungi suku dari segala ancaman luar. Pertunjukan tiga babak ini menggabungkan seni tari, paduan suara, dan film dalam nuansa etnik-magis dengan pendekatan kontemporer. Interpretasi terhadap karakter Waraney dalam tari Kawasaran dan nyanyian paduan suara gereja akan jadi simbol negosiasi budaya yang terjadi hari ini. I Yayat U Santi berangkat dari prinsip pejuang gunung yang digunakan sebagai filosofi hidup oleh masyarakat Minahasa hingga kini. Dalam bahasa Minahasa, I Yayat U Santi berarti “Angkat Pedangmu!”. Teriakan yang dulu digaungkan sembari melangkah ke medan laga kami interpretasikan sebagai spirit untuk melindungi dan mengeksplorasi warisan nenek moyang. Pertunjukan ini melibatkan sembilan penari muda dan kelompok paduan suara serta komunitas film di Tomohon yang berkolaborasi dengan tim IKKON untuk menyuguhkan sebuah kreasi budaya dalam bentuk paling mumpuninya.


Creative Team:
“I Yayat U Santi” adalah karya kolaborasi tim IKKON-Tomohon 2019 dengan komunitas dan pegiat kreatif di kota Tomohon. Proses penciptaan karya dilakukan selama empat bulan secara intensif dan kolaboratif.

Director: Otniel Tasman dan para penari masing-masing :
  1. Hillary Marhaeng Zular
  2. Brittany Rumintjap
  3. Damar Mantow
  4. Kresti Wowor
  5. Andro Pascal Taroreh
  6. Herry I. Wehantow
  7. Fiona Pondong
  8. Bryan B.A.J Pandeirot
  9. Rinoa Senduk
  10. Kezia Pasca Senduk

Music by: Ghoniyya Hamida
Choir: Romamti Ezer Motet (REM) Tomohon *
Movie: Tim IKKON x komunitas film Tomohon
Story writer: Titah AW
Visual: Bambang Airlangga
Costume: Felicia Budi
Artistic: Muhammad Zulfikri, Fauzi Adhika
Trailer: Rully Leksmana
Photo: Teguh Priyatna

(191)