Eat n Drink 111 | Seruan dari Alam Maut

Edisi 20 April 2016 – Pembacaan Ayat Alkitab: Luk. 16:19—17:10

16:19 “Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

16:20 Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,

16:21 dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

16:22 Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

16:23 Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

16:24 Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

16:25 Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

16:26 Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

16:27 Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

16:28 sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

16:29 Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

16:30 Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

16:31 Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”

17:1 Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah orang yang mengadakannya.

17:2 Adalah lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya, lalu ia dilemparkan ke dalam laut, dari pada menyesatkan salah satu dari orang-orang yang lemah ini.

17:3 Jagalah dirimu! Jikalau saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia, dan jikalau ia menyesal, ampunilah dia.

17:4 Bahkan jikalau ia berbuat dosa terhadap engkau tujuh kali sehari dan tujuh kali ia kembali kepadamu dan berkata: Aku menyesal, engkau harus mengampuni dia.”

17:5 Lalu kata rasul-rasul itu kepada Tuhan: “Tambahkanlah iman kami!”

17:6 Jawab Tuhan: “Kalau sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja, kamu dapat berkata kepada pohon ara ini: Terbantunlah engkau dan tertanamlah di dalam laut, dan ia akan taat kepadamu.”

17:7 “Siapa di antara kamu yang mempunyai seorang hamba yang membajak atau menggembalakan ternak baginya, akan berkata kepada hamba itu, setelah ia pulang dari ladang: Mari segera makan!

17:8 Bukankah sebaliknya ia akan berkata kepada hamba itu: Sediakanlah makananku. Ikatlah pinggangmu dan layanilah aku sampai selesai aku makan dan minum. Dan sesudah itu engkau boleh makan dan minum.

17:9 Adakah ia berterima kasih kepada hamba itu, karena hamba itu telah melakukan apa yang ditugaskan kepadanya?

17:10 Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.”

 

Seruan dari Alam Maut

Doa baca: “Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku, sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini(Luk. 16:27-28)

  

Inilah permintaan orang kaya yang binasa kepada Abraham, sewaktu ia menderita sengsara dalam nyala api di alam maut. Permintaannya menunjukkan kepada kita bahwa hari ini banyak orang dalam alam maut sangat mengharapkan sanak keluarganya yang masih hidup di bumi dapat mendengarkan Injil dan tertolong, terhindar dari sengsara maut. Dalam alam maut, mereka merintih atas keperluan Injil untuk sanak keluarganya yang masih hidup. Inilah seruan pada aspek kedua mengenai keperluan Injil. Bukankah kita harus prihatin terhadap rintihan ini, sehingga pergi kepada mereka yang masih hidup yang masih mempunyai kesempatan untuk bertobat, untuk memberitakan Injil yang dapat menyelamatkan mereka agar terlepas dari kebinasaan yang kekal?

Kita harus memberitakan Injil dengan tekun (1:13-15). Jika kita mau bekerja sama dengan Tuhan dalam hal memberitakan Injil, kita harus melatih ketiga hal ini: dalam roh, demi doa, dan dengan tekun. Segala macam upaya dan kepandaian tak berguna. Kita semua perlu melatih roh kita untuk menjamah orang, berdoa, dan siap dengan tekun. Jika Injil itu tidak dapat menggerakkan Anda, Injil itu juga tidak akan dapat menggerakkan orang lain. Jika Injil itu tidak bisa menundukkan Anda, tentu tidak bisa menundukkan orang lain. Jika diri Anda sendiri tidak pernah menangis karena Injil, maka tidak akan ada seorang pun yang akan bertobat. Dahulu ada seorang saudara, sangat mahir menginjil. Ia tidak berbicara banyak. Namun ketika ia berdiri di hadapan orang dosa, ia menangis. Setelah sejangka waktu ia menangis di hadapan mereka, air mata penyesalan pun turun dari mata orang-orang lain. (Pokok-pokok Penting dalam Alkitab, vol. 5, bab 28; PH Roma, berita 2, W. Lee)  

 

Ayat Hafalan:Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.” (1 Tes. 2:7)

Jadwal Pembacaan Perjanjian Lama: 1 Sam 1—2:26


(59)