Eat n Drink 175 | Mengampuni dan Berbelas Kasihan

Edisi 24 Juni 2016 – Pembacaan Ayat Alkitab: Kis. 7:54-8:3

7:54 Ketika anggota-anggota Mahkamah Agama itu mendengar semuanya itu, hati mereka sangat tertusuk. Mereka menyambutnya dengan kertak gigi.

7:55 Tetapi Stefanus, yang penuh dengan Roh Kudus, menatap ke langit, lalu melihat kemuliaan Allah dan Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.

7:56 Lalu katanya, “Sungguh, aku melihat langit terbuka dan Anak Manusia berdiri di sebelah kanan Allah.”

7:57 Tetapi berteriak-teriaklah mereka dan sambil menutup telinga, mereka menyerbu dia.

7:58 Mereka menyeret dia ke luar kota, lalu melemparinya dengan batu. Saksi-saksi meletakkan jubah mereka di depan kaki seorang pemuda yang bernama Saulus.

7:59 Sementara mereka melemparinya Stefanus berdoa, katanya, “Ya Tuhan Yesus, terimalah rohku.”

7:60 Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring, “Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!” Sesudah berkata demikian, ia pun meninggal.

8:1 Saulus juga setuju dengan pembunuhan atas Stefanus. Pada waktu itu mulailah penganiayaan yang hebat terhadap jemaat di Yerusalem. Mereka semua, kecuali rasul-rasul, tersebar ke seluruh daerah Yudea dan Samaria.

8:2 Orang-orang saleh menguburkan mayat Stefanus serta meratapinya dengan sangat.

8:3 Tetapi Saulus berusaha membinasakan jemaat itu dan ia memasuki rumah demi rumah dan menyeret laki-laki dan perempuan ke luar dan menyerahkan mereka untuk dimasukkan ke dalam penjara.

 

Mengampuni dan Berbelas Kasihan

Doa-baca: Sambil berlutut ia berseru dengan suara nyaring, ‘Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!’” (Kis. 7:60a)

 

Dalam Lukas 6:37 mengatakan, “Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” Di sini menghukum berarti menyalahkan, mengampuni berarti membebaskan. Jika kita tidak menyalahkan, kita tidak akan disalahkan. Demikian juga, jika kita mengampuni, kita akan diampuni. Jika kita benar-benar telah mengampuni seseorang, kita harus juga melupakan kesalahannya. Begitu kita mengampuni seseorang dalam satu perkara, kita tidak boleh menyinggungnya lagi. Menurut Perjanjian Baru, mengampuni berarti melupakan dan membebaskan. Kita perlu mengampuni kesalahan orang dan membebaskan orang yang bersalah itu. Begitu kita melakukan hal ini, kita tidak boleh membicarakannya lagi.

Jika kita hidup di dalam roh yang rendah hati di bawah pemerintahan Tuhan, kita akan selalu menghakimi diri sendiri, tidak menghakimi orang lain. Anak-anak Allah akan dihakimi dengan cara mereka menghakimi. Jika mereka menghakimi dengan keadilan, mereka akan dihakimi oleh Tuhan dengan keadilan. Jika mereka menghakimi orang lain dengan belas kasihan, mereka akan dihakimi oleh Tuhan dengan belas kasihan. Seperti dikatakan dalam Yakobus 2:13, “Belas kasihan akan menang atas penghakiman.” Dalam Kitab Kisah Para Rasul kita melihat sebuh teladan yang diberikan oleh Stefanus. Stefanus memiliki roh yang rendah hati, karena itu dia dapat berbelas kasihan kepada orang-orang yang membunuhnya. Marilah kita memiliki roh yang rendah hati, penuh belas kasihan kepada semua orang. (PH Lukas, Berita 1, W. Lee)

 

Ayat Hafalan: Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat.” (Ef. 5:32).

Jadwal Pembacaan Perjanjian Lama:  2 Taw. 9:31b—12:16a

(59)