Eat n Drink 203 | Allah Berkuasa

Edisi 2 Agustus 2016 – Pembacaan Ayat Alkitab: Roma. 3:21—4:25

3:21 Tetapi sekarang, tanpa hukum Taurat pembenaran oleh Allah telah dinyatakan, seperti yang disaksikan dalam Kitab Taurat dan Kitab-kitab para nabi,

3:22 yaitu pembenaran oleh Allah melalui iman dalam Yesus Kristus bagi semua orang yang percaya. Sebab tidak ada perbedaan.

3:23 Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah,

3:24 dan oleh anugerah-Nya telah dibenarkan dengan cuma-cuma melalui penebusan dalam Kristus Yesus.

3:25 Kristus Yesus telah ditentukan Allah menjadi jalan pendamaian melalui iman, dalam darah-Nya. Hal ini dibuat-Nya untuk menunjukkan keadilan-Nya, karena Ia telah membiarkan dosa-dosa yang telah terjadi dahulu pada masa kesabaran-Nya. 

3:26 Maksud-Nya ialah untuk menunjukkan keadilan-Nya pada masa ini bahwa Ia adil dan juga membenarkan orang yang percaya kepada Yesus.

3:27 Jika demikian, apa dasarnya untuk bermegah? Tidak ada! Berdasarkan azas apa? Berdasarkan azas perbuatankah? Bukan, melainkan berdasarkan azas iman!

3:28 Karena kami yakin bahwa manusia dibenarkan karena iman, bukan karena melakukan hukum Taurat.

3:29 Atau apakah Allah hanya Allah orang Yahudi saja? Bukankah Ia juga Allah bangsa-bangsa lain? Ya, benar. Ia juga Allah bangsa-bangsa lain!

3:30 Jika Allah memang satu, Dia akan membenarkan baik orang-orang bersunat melalui iman, maupun orang-orang tak bersunat melalui iman.

3:31 Jika demikian, apakah kami membatalkan hukum Taurat karena iman? Sekali-kali tidak! Sebaliknya, kami meneguhkannya.

4:1 Jadi, menurut kita, apa yang telah diperoleh Abraham, bapak leluhur jasmani kita?

4:2 Sebab sekiranya Abraham dibenarkan berdasarkan perbuatannya, maka ia beroleh dasar untuk bermegah, tetapi tidak di hadapan Allah.

4:3 Sebab apa yang dikatakan nas Kitab Suci? “Lalu percayalah Abraham kepada Allah, maka Allah memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran.”

4:4 Kepada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.

4:5 Tetapi kepada orang yang tidak bekerja, namun percaya kepada Dia yang membenarkan orang fasik, imannya diperhitungkan sebagai kebenaran.

4:6 Seperti juga Daud menyebut berbahagia orang yang dibenarkan Allah bukan berdasarkan perbuatannya:

4:7 “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggaran-pelanggarannya, dan yang ditutupi dosa-dosanya;

4:8 berbahagialah orang yang dosanya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya.”

4:9 Apakah ucapan bahagia ini hanya berlaku bagi orang bersunat saja atau juga bagi orang tak bersunat? Sebab telah kami katakan bahwa kepada Abraham iman diperhitungkan sebagai kebenaran.

4:10 Dalam keadaan mana hal itu diperhitungkan? Sebelum atau sesudah ia disunat? Bukan sesudah disunat, tetapi sebelumnya.

4:11 Tanda sunat itu diterimanya sebagai meterai kebenaran berdasarkan iman yang ditunjukkannya, sebelum ia bersunat. Demikianlah ia dapat menjadi bapak semua orang tak bersunat yang percaya, supaya kebenaran diperhitungkan kepada mereka,

4:12 dan juga menjadi bapak orang-orang bersunat, yaitu mereka yang bukan hanya bersunat, tetapi juga mengikuti jejak iman Abraham, bapak leluhur kita, pada masa ia belum disunat.

4:13 Sebab janji kepada Abraham dan keturunannya bahwa ia akan memiliki dunia, bukan berdasarkan hukum Taurat melainkan berdasarkan pembenaran melalui iman.

4:14 Sebab seandainya mereka yang mengharapkannya dari hukum Taurat, menerima bagian yang dijanjikan Allah, maka sia-sialah iman dan batallah janji itu.

4:15 Karena hukum Taurat membangkitkan murka, tetapi di mana tidak ada hukum Taurat, di situ tidak ada juga pelanggaran.

4:16 Karena itu, janji tersebut berdasarkan iman supaya sesuai dengan anugerah, sehingga janji itu berlaku bagi semua keturunan Abraham, bukan hanya bagi mereka yang hidup dari hukum Taurat, tetapi juga bagi mereka yang hidup dari iman Abraham. Sebab Abraham adalah bapak kita semua —

4:17 seperti ada tertulis: “Engkau telah Kutetapkan menjadi bapak banyak bangsa” — di hadapan Allah yang kepada-Nya ia percaya, yaitu Allah yang menghidupkan orang mati dan menjadikan dengan firman-Nya apa yang tidak ada menjadi ada.

4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya bahwa ia akan menjadi bapak banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan, “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

4:19 Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui bahwa tubuhnya sudah mati, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.

4:20 Tetapi terhadap janji Allah ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Allah,

4:21 serta berkeyakinan penuh bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.

4:22 Itulah sebabnya hal itu diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.

4:23 Kata-kata ini, yaitu “hal itu diperhitungkan kepadanya,” tidak ditulis untuk Abraham saja,

4:24 tetapi ditulis juga untuk kita; sebab kepada kita pun Allah memperhitungkannya, karena kita percaya kepada Dia, yang telah membangkitkan Yesus, Tuhan kita, dari antara orang mati,

4:25 yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan untuk pembenaran kita.

 

Allah Berkuasa

Doa baca: “Serta berkeyakinan penuh bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan.” (Rm. 4:21)

 

Apakah iman? Iman adalah berpegang pada apa yang telah difirmankan Allah, dan mendoakannya agar janji Allah terwujud. Iman adalah percaya, bahwa Allah itu setia dan pasti melaksanakan apa yang telah difirmankanNya. Apakah iman itu besar atau kecil tidaklah penting. Yang penting adalah: jika Allah telah menjanjikan sesuatu, mungkinkah Ia berdusta dan berubah? Satu-satunya pertanyaan yang harus kita ajukan adalah, apakah kita percaya, bahwa Allah itu jujur. Itu tidak ada hubungannya dengan iman kita yang besar atau kecil. Kita tahu Allah mengasihi kita. Karena itu, kita tidak ragu-ragu bahwa Ia adalah untuk kita. Alkitab menunjukkan kepada kita sedikitnya ada dua aspek yang berkenaan dengan janji-Nya: “Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah la janjikan” (Rm. 4:21). Allah berkuasa, dan dengan kuasa-Nya Ia menepati janjiNya. Allah kita bukanlah Allah yang lemah tak berdaya, yang tidak bisa melakukan apa yang telah dijanjikanNya. Seandainya demikian, apa gunanya Ia berjanji? Semua janji-Nya akan merupakan kata-kata kosong. Tetapi Allah tidak hanya sangat berkuasa dalam menjadikan sesuatu. Dia juga berkuasa dalam melaksanakan janji-Nya. Apapun yang telah dijanjikan-Nya, Ia sanggup menepati.

Allah tidak hanya sanggup melaksanakan apa yang telah la janjikan, Ia juga dengan sungguh-sungguh menepatinya. Sekalipun seseorang mampu melaksanakannya, tetapi kalau ia tidak menepati perkataannya, janji-Nya akan sia-sia. Allah tidak hanya sanggup, Ia pun dengan sungguh-sungguh menepati janji-janji-Nya. (Sumber Iman, W.Nee)

 

 

Ayat Hafalan:Apa yang dilahirkan secara jasmani bersifat jasmani dan apa yang dilahirkan dari Roh bersifat rohani.” (Yoh. 3:6) 

Jadwal Pembacaan Perjanjian Lama: Mzm. 1—6

(66)