Eat n Drink 211 | Tergantung pada Kedaulatan Allah

Edisi 10 Agustus 2016 – Pembacaan Ayat Alkitab: Rm. 9:19–10:3

9:19 Sekarang kamu akan berkata kepadaku, “Jika demikian, apa lagi yang masih disalahkan-Nya? Sebab siapa yang menentang kehendak-Nya?”

9:20 Siapakah engkau, hai manusia, maka engkau membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya, “Mengapa engkau membentuk aku demikian?”

9:21 Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu bejana untuk tujuan yang mulia dan yang lain untuk tujuan yang biasa?

9:22 Jadi, kalau untuk menunjukkan murka-Nya dan menyatakan kuasa-Nya, Allah menaruh kesabaran yang besar terhadap bejana-bejana kemurkaan-Nya, yang telah disiapkan untuk kebinasaan —

9:23 justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas bejana-bejana belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan, 

9:24 yaitu kita, yang telah dipanggil-Nya bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara bangsa-bangsa lain,

9:25 seperti yang difirmankan-Nya juga dalam kitab Nabi Hosea, “Yang bukan umat-Ku akan Kusebut ‘umat-Ku’ dan yang bukan kekasih ‘kekasih’.

9:26 Dan di tempat, di mana akan dikatakan kepada mereka, ‘Kamu ini bukanlah umat-Ku’, di sana akan dikatakan kepada mereka, ‘Anak-anak Allah yang hidup.’ “

9:27 Dan Yesaya berseru tentang Israel, “Sekalipun jumlah anak Israel seperti pasir di laut, namun hanya sisanya akan diselamatkan.

9:28 Sebab apa yang telah difirmankan-Nya, akan dilakukan Tuhan di atas bumi, sempurna dan segera.”

9:29 Seperti yang dikatakan Yesaya sebelumnya, “Seandainya Tuhan semesta alam tidak meninggalkan pada kita keturunan, kita sudah menjadi seperti Sodom dan sama seperti Gomora.”

9:30 Jika demikian, apa yang hendak kita katakan? Ternyata, bangsa-bangsa lain yang tidak mengejar kebenaran, telah beroleh kebenaran, yaitu kebenaran berdasarkan iman.

9:31 Sedangkan Israel, sungguhpun mengejar hukum yang akan mendatangkan kebenaran, tidak sampai kepada hukum itu.

9:32 Mengapa tidak? Karena Israel mengejarnya bukan berdasarkan iman, tetapi berdasarkan perbuatan. Mereka tersandung pada batu sandungan,

9:33 seperti ada tertulis: “Sesungguhnya, Aku meletakkan di Sion sebuah batu sentuhan dan sebuah batu besar yang membuat orang jatuh, dan siapa yang percaya kepada-Nya, tidak akan dipermalukan.

10:1 Saudara-saudara, kerinduan hatiku dan doaku kepada Allah ialah, supaya mereka diselamatkan.

10:2 Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka bahwa mereka sungguh berapi-api untuk Allah, tetapi tanpa pengertian.

10:3 Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal pembenaran oleh Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran diri mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada pembenaran oleh Allah.

 

Tergantung pada Kedaulatan Allah 

Doa-baca: “Justru untuk menyatakan kekayaan kemuliaan-Nya atas bejana-bejana belas kasihan-Nya yang telah dipersiapkan-Nya untuk kemuliaan.” (Rm. 9:23)

 

Roma 9:21 menyingkapkan tujuan Allah dalam menciptakan manusia. Ayat ini dengan unik mewahyukan tujuan Allah tersebut. Tanpa ayat ini kita sulit memahami bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah membuatnya menjadi bejana untuk menampung diri-Nya sendiri. Allah dengan kedaulatan-Nya menciptakan kita menjadi bejana-Nya menurut penentuan-Nya. 

Dalam ayat 23-24 menyatakan bahwa segalanya tergantung pada kuasa kedaulatan Allah. Allah berkuasa membuat kita, yang dipilih dan bukan hanya dari antara orang Yahudi, tetapi juga dari antara orang kafir, menjadi bejana belas kasihan-Nya, guna menampung-Nya agar kekayaan kemuliaan-Nya dapat dinyatakan. Menurut kuasa kedaulatan-Nya itu, Ia sejak dini telah mempersiapkan kita untuk kemuliaan-Nya ini. Kita telah ditentukan sejak semula oleh kedaulatan-Nya menjadi bejana, yaitu bejana mulia untuk mengekspresikan hakiki-Nya dalam kemuliaan. Ini bukan masalah belas kasihan melulu, melainkan juga masalah kedaulatan-Nya. 

Pemilihan Allah mempunyai satu sasaran, yakni memperoleh banyak bejana guna menampung Allah dan mengekspresikan Dia sampai kekal. Allah menciptakan kita sedemikian rupa supaya kita dapat menerima dan menampung Dia ke dalam kita sebagai hayat dan suplai hayat kita, agar tercapai satu tujuan, yakni kita bisa bersatu dengan Dia, untuk mengekspresikan hakiki-Nya, sehingga Dia dimuliakan di dalam kita dan bersama kita. Inilah sasaran kekal pemilihan Allah, juga nasib kekal kita. (PH Roma, bab 22, W. Lee)

Ayat Hafalan: “Roh itu sendiri bersaksi bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah.” (Rm. 8:16) 

Jadwal Pembacaan Perjanjian Lama:  Mzm. 37—38

(58)