Eat n Drink 41 | Edisi 10 Februari 2016 (Ketidakbenaran Kerajaan Dunia)

Pembacaan Ayat Alkitab: Mat. 27:1-26

27:1 Ketika hari mulai siang, semua imam kepala dan tua-tua bangsa Yahudi berkumpul dan mengambil keputusan untuk membunuh Yesus.

27:2 Mereka membelenggu Dia, lalu membawa-Nya dan menyerahkan-Nya kepada Pilatus, wali negeri itu.

27:3 Pada waktu Yudas, yang menyerahkan Dia, melihat, bahwa Yesus telah dijatuhi hukuman mati, menyesallah ia. Lalu ia mengembalikan uang yang tiga puluh perak itu kepada imam-imam kepala dan tua-tua,

27:4 dan berkata: “Aku telah berdosa karena menyerahkan darah orang yang tak bersalah.” Tetapi jawab mereka: “Apa urusan kami dengan itu? Itu urusanmu sendiri!”

27:5 Maka ia pun melemparkan uang perak itu ke dalam Bait Suci, lalu pergi dari situ dan menggantung diri. 

27:6 Imam-imam kepala mengambil uang perak itu dan berkata: “Tidak diperbolehkan memasukkan uang ini ke dalam peti persembahan, sebab ini uang darah.”

27:7 Sesudah berunding mereka membeli dengan uang itu tanah yang disebut Tanah Tukang Periuk untuk dijadikan tempat pekuburan orang asing.

27:8 Itulah sebabnya tanah itu sampai pada hari ini disebut Tanah Darah.

27:9 Dengan demikian genaplah firman yang disampaikan oleh nabi Yeremia: “Mereka menerima tiga puluh uang perak, yaitu harga yang ditetapkan untuk seorang menurut penilaian yang berlaku di antara orang Israel,

27:10 dan mereka memberikan uang itu untuk tanah tukang periuk, seperti yang dipesankan Tuhan kepadaku.”

27:11 Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.”

27:12 Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apa pun.

27:13 Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?”

27:14 Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran.

27:15 Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.

27:16 Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.

27:17 Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?”

27:18 Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

27:19 Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.”

27:20 Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.

27:21 Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.”

27:22 Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!”

27:23 Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!”

27:24 Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”

27:25 Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”

27:26 Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

 

Ketidakbenaran Kerajaan Dunia

Doa baca: Kata Pilatus kepada mereka: ‘Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?’ Mereka semua berseru: ‘Ia harus disalibkan!’” (Mat. 27:22)

 

Makna pasal 27 ialah menunjukkan kontras antara kerajaan dunia dan Kerajaan Surga. Di aspek kerajaan dunia ada ketidakbenaran; tetapi di aspek Kerajaan Surga ada kebenaran. Di satu pihak, Yesus dihakimi, disalahkan, dan dihukum mati di atas salib, ini tidak benar; di lain pihak, Dia menerima penghakiman dan dihukum mati, adalah benar. Ia secara salah divonis oleh pemerintahan duniawi yang tidak benar. Ia benar dan tidak bersalah.

Pilatus pun mempersaksikan bahwa Kristus adalah orang yang benar, bahkan membasuh tangannya untuk menunjukkan bahwa ia tidak mau terlibat dalam ketidakbenaran apa pun. Menurut hati nuraninya, Pilatus mengetahui pula bahwa Yesus itu benar dan orang-orang Yahudi tidak benar dalam menahan-Nya. Ia pun tahu bahwa ia seharusnya membebaskan orang benar ini, tetapi ia takut berbuat demikian. Khalayak menginginkan dia membebaskan Barabas dan menyalibkan Yesus. Pilatus ditaklukkan oleh suara khalayak. Untuk meredakan hati nuraninya, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan banyak orang dan berkata, “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!” (ayat 24). Sebab itu Pilatus membebaskan Barabas, tetapi menyerahkan Yesus untuk disalibkan. Inilah penyingkapan mutlak politik yang gelap dan tidak adil, sesuai dengan nubuat dalam Yesaya 53:5 dan 8.

Kontras ini menyiratkan bahwa kerajaan dunia tidak dapat bertahan, sebab kerajaan dunia tidak dibangun di atas kebenaran. Namun Kerajaan Surga dan Kerajaan Allah mutlak benar. Kerajaan Allah dibangun di atas kebenaran. Karena ketidakbenaran pemerintahan kerajaan dunia ini, Kristus secara salah divonis mati. Namun pada hakikatnya, Ia secara sah divonis mati oleh kebenaran pemerintahan Allah. (PH Matius, berita 70, W. Lee)

 

Ayat Hafalan: “Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya.” (2 Kor. 3:16)

Jadwal Pembacaan Perjanjian Lama: Im. 4—6:7

(69)