Eat n Drink 60 | Edisi 29 Februari 2016 (Ajaran tentang Kerendahan Hati)

Pembacaan Ayat Alkitab: Mrk. 9:33-37

9:33 Kemudian tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Kapernaum. Ketika Yesus sudah di rumah, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Apa yang kamu perbincangkan tadi di tengah jalan?”

9:34 Tetapi mereka diam, sebab di tengah jalan tadi mereka mempertengkarkan siapa yang terbesar di antara mereka.

9:35 Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: “Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.”

9:36 Maka Yesus mengambil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, kemudian Ia memeluk anak itu dan berkata kepada mereka:

9:37 “Barangsiapa menyambut seorang anak seperti ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku. Dan barangsiapa menyambut Aku, bukan Aku yang disambutnya, tetapi Dia yang mengutus Aku.

 

Ajaran tentang Kerendahan Hati

Doa baca:Lalu Yesus duduk dan memanggil kedua belas murid itu. Kata-Nya kepada mereka: ‘Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya.’ (Mrk. 9:35)

Tidakkah Anda menyadari apakah kerendahan hati itu? Sama seperti doa, kerendahan hati berarti bahwa kita bukanlah apa-apa. Kerendahan hati berarti “bukan lagi Aku, melainkan Kristus.” Mengenai perkara siapa yang terbesar, murid-murid perlu mempraktekkan visi melalui belajar merendahkan diri.

1 Petrus 5:5 berkata, “Dan kamu semua, rendahkanlah dirimu (ikatlah dirimu dengan kerendahan hati) seorang terhadap yang lain.”(Tl.) Setiap orang dalam gereja, termasuk penatua, harus mengikat diri dengan kerendahan hati. Dalam 1:13 Petrus berpesan agar kita “mengikat pinggang pikiran” kita (mempersiapkan akal budi, LAI), tetapi di sini ia menunjukkan bahwa seluruh diri kita perlu diikat.  

“Ikatlah dirimu dengan kerendahan hati” kata Yunaninya merupakan turunan dari kata benda yang berarti celemek budak; celemek semacam itu mengikat pakaian luar budak yang longgar pada waktu dia melayani. Di sini, kata ini dipakai sebagai kiasan, yang melambangkan mengenakan kerendahan hati sebagai kebajikan dalam pelayanan. Kiasan ini jelas berasal dari kesan Petrus terhadap cara Tuhan mengikat diri-Nya dengan handuk, ketika Dia merendahkan diri mencuci kaki murid-murid, khususnya kaki Petrus (Yoh. 13:4-7).

Pada tahun 1858, di Ningpo, seorang yang bernama Tuan Kwa tahu-tahu terkena sakit cacar yang parah sekali. Dia tidak mempunyai sanak keluarga yang dapat merawat dirinya dan tidak ada rumah sakit yang ada I.C.U-nya. Namun, dengan kasih Hudson Taylor menyanggupi untuk tinggal bersama dia, mengobati, dan siang malam melayani dia, sampai Tuan Kwa itu meninggal dunia. Jika kita mengikat diri kita dengan kerendahan hati, kita akan menjadi orang yang rendah hati penuh simpati kepada orang lain. (PH Markus, berita 27, W. Lee; Rendah, LYD)  

 

Ayat Hafalan:Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran.” (Rm. 8:10)

Jadwal Pembacaan Perjanjian Lama: Bil. 15

(72)