Eat n Drink 89 | Katakan Saja Sepatah Kata

Edisi 29 Maret 2016 – Pembacaan Ayat Alkitab: Luk. 7:1-17

7:1 Setelah Yesus selesai berbicara di depan orang banyak, masuklah Ia ke Kapernaum.

7:2 Di situ ada seorang perwira yang mempunyai seorang hamba, yang sangat dihargainya. Hamba itu sedang sakit keras dan hampir mati.

7:3 Ketika perwira itu mendengar tentang Yesus, ia menyuruh beberapa orang tua-tua Yahudi kepada-Nya untuk meminta, supaya Ia datang dan menyembuhkan hambanya.

7:4 Mereka datang kepada Yesus dan dengan sangat mereka meminta pertolongan-Nya, katanya: “Ia layak Engkau tolong,

7:5 sebab ia mengasihi bangsa kita dan dialah yang menanggung pembangunan rumah ibadat kami.”

7:6 Lalu Yesus pergi bersama-sama dengan mereka. Ketika Ia tidak jauh lagi dari rumah perwira itu, perwira itu menyuruh sahabat-sahabatnya untuk mengatakan kepada-Nya: “Tuan, janganlah bersusah-susah, sebab aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku;

7:7 sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.

7:8 Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”

7:9 Setelah Yesus mendengar perkataan itu, Ia heran akan dia, dan sambil berpaling kepada orang banyak yang mengikuti Dia, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai, sekalipun di antara orang Israel!”

7:10 Dan setelah orang-orang yang disuruh itu kembali ke rumah, didapatinyalah hamba itu telah sehat kembali.

7:11 Kemudian Yesus pergi ke suatu kota yang bernama Nain. Murid-murid-Nya pergi bersama-sama dengan Dia, dan juga orang banyak menyertai-Nya berbondong-bondong.

7:12 Setelah Ia dekat pintu gerbang kota, ada orang mati diusung ke luar, anak laki-laki, anak tunggal ibunya yang sudah janda, dan banyak orang dari kota itu menyertai janda itu.

7:13 Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia berkata kepadanya: “Jangan menangis!”

7:14 Sambil menghampiri usungan itu Ia menyentuhnya, dan sedang para pengusung berhenti, Ia berkata: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu, bangkitlah!”

7:15 Maka bangunlah orang itu dan duduk dan mulai berkata-kata, dan Yesus menyerahkannya kepada ibunya.

7:16 Semua orang itu ketakutan dan mereka memuliakan Allah, sambil berkata: “Seorang nabi besar telah muncul di tengah-tengah kita,” dan “Allah telah melawat umat-Nya.”

7:17 Maka tersiarlah kabar tentang Yesus di seluruh Yudea dan di seluruh daerah sekitarnya.

 

Katakan Saja Sepatah Kata

Doa-baca: “Sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.” (Luk. 7:7) 

 

Dalam 7:1-10 kita nampak kuasa dan perkataan yang berkuasa. Perwira itu seolah-olah berkata kepada Manusia-Penyelamat, “Tuhan, aku tidak layak datang melihat Engkau; aku juga tidak layak menerima kedatangan-Mu ke rumahku. Namun aku tahu apa kuasa itu. Aku berada di bawah kekuasaan orang lain, dan ada orang lain yang berada di bawah kekuasaanku. Hal yang perlu kulakukan hanyalah mengatakan satu perkataan kepada salah seorang prajurit, dan ia akan melakukan apa yang kukatakan. Aku tahu, Tuhan, bahwa Engkau adalah Sang kuasa di alam semesta ini.”

Bagaimana perwira Romawi ini, seorang bukan Yahudi, mengenal kuasa Tuhan? Menurut ayat 5, ia mengasihi bangsa Yahudi dan membangun sebuah rumah ibadat bagi orang-orang Yahudi. Dari hal ini kita nampak bahwa ia mungkin memiliki sedikit pengetahuan akan Perjanjian Lama. Selain itu, ia menyebut Manusia-Penyelamat ini sebagai Tuhan. Jadi, ia sadar bahwa Manusia-Penyelamat ini adalah Dia yang memiliki kuasa yang sejati.

Perwira ini juga mengenal makna perkataan yang berkuasa. Inilah sebabnya ia dapat berkata kepada Manusia-Penyelamat, “Katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh” (ay. 7). Ia mengenal kuasa dan firman sebagai ekspresi kuasa itu. Hamba perwira itu disembuhkan oleh firman Manusia-Penyelamat.

Dalam 7:9 Tuhan Yesus heran akan iman perwira itu: Perwira bukan Yahudi itu mengenal kuasa Manusia-Penyelamat dan menyadari bahwa firman-Nya adalah firman dengan kuasa kesembuhan. Karena itu, ia bukan hanya percaya kepada Manusia-Penyelamat, tetapi juga kepada firman-Nya. Ia meminta Tuhan untuk tidak datang secara pribadi, melainkan hanya mengirimkan firman-Nya. Manusia-Penyelamat heran akan iman yang besar itu. (PH Lukas, berita 16, W. Lee)

 

Ayat Hafalan: “Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langit-langitku, lebih dari pada madu bagi mulutku.” (Mzm. 119:103)

Jadwal Pembacaan Perjanjian Lama: Yos. 3—4

(83)