Pembacaan Alkitab: Mat. 21:1-22

SAMBUTAN HANGAT BAGI RAJA SURGAWI,

PEMBERSIHAN BAIT SUCI, DAN PENGUTUKAN POHON ARA

Dalam berita ini kita akan membicarakan Matius  D 21:1-22 yang mencakup tiga masalah: sambutan terhadap Raja yang lemah lembut (ayat 1-11); pembersihan  Bait  Suci  (ayat  12-27);  dan  pengutukan pohon ara (ayat 18-22).

Menurut  keempat  Injil,  Tuhan  Yesus  tidak melakukan hal-hal dengan maksud agar Dia mendapat sambutan  yang  hangat.  Sebaliknya,  Dia  selalu  siap menerima  penolakan.  Tetapi  dalam  21:1-11  Dia telah mempersiapkan segala sesuatu untuk disambut dengan hangat. Hal ini menggenapkan nubuat Zakharia 9:9. 

 Raja datang mengendarai seekor keledai betina dan seekor  keledai  muda  melambangkan  keadaan  yang rendah  yang  dengan  rela  dijalani  oleh  Raja  kerajaan surgawi. Tuhan Yesus  tidak  menunggang  kuda  masuk Yerusalem  dengan  megah.  Tuhan  Yesus  datang  tidak untuk berjuang atau bersaing, melainkan untuk menjadi Raja yang lemah lembut. Tidak ada seorang raja duniawi yang mau berbuat demikian.

Dalam ayat 7-8 terdapat sambutan hangat dari orang banyak.  Mereka  menghormati  Tuhan  dengan menghamparkan  pakaiannya  di  jalan.  Pakaian melambangkan  kebajikan  manusia  dalam  perilaku. Menghamparkan  pakaian  juga  berarti  menghormati Tuhan dengan segala sesuatu yang mereka miliki. Tidak peduli  betapa  miskinnya  seseorang,  paling  tidak  ia punya  pakaian  untuk  menutupi  dirinya.  Kita  perlu menghormati Tuhan dengan apa adanya kita. Walau kita ini berdosa, kasihan, dan bahkan jahat, Tuhan dihormati dengan apa adanya kita.

Mereka juga menyebarkan ranting-ranting di jalan (ayat 8). Ranting-ranting di sini adalah ranting-ranting pohon palem (Yoh. 12—13), yang melambangkan hayat yang menang (Why. 7:9) dan kepuasan dari menikmati hasil  yang  kaya  dari  hayat  itu,  seperti  yang dilambangkan oleh hari raya Pondok Daun (Im. 23:40; Neh.  8:15).  Ini  berarti  mereka  mengenal  Dia  sebagai satu-satunya persona yang memiliki hayat yang menang.

Dalam ayat 9, mereka berseru “Hosana bagi Anak Daud.”  Kata  Ibrani  Hosana  berarti  “selamatkanlah sekarang”  (Mzm.  118:25).  Dari  pujian  orang  yang menyambut Sang Raja, jelaslah bagi kita bahwa Dialah persona yang diutus oleh Allah, yaitu orang yang datang dalam nama Tuhan (ayat 26). Tetapi di Yerusalem masih saja orang mengenal Dia sebagai nabi dari Nazaret di Galilea (ayat 11).

Ketika  Tuhan  masuk  ke  Kota  Yerusalem,  perkara pertama  yang  Dia  lakukan  ialah  membersihkan  Bait Allah  (ayat  12).  Hati-Nya  bukan  untuk  kerajaan-Nya, melainkan untuk rumah Allah. Ketika kita menyambut Tuhan  ke  dalam  kita  sebagai  Raja  kita,  Dia membersihkan Bait Allah, yang hari ini adalah roh kita, tempat  kediaman  Allah  (Ef.  2:22).  Roh  kita  harus menjadi rumah doa, tetapi karena telah jatuh, roh kita dijadikan sarang penyamun. Tetapi ketika Yesus masuk ke  dalam  kita,  Dia  mengusir  semua  penyamun  dan membersihkan Bait Suci roh kita.Setelah pembersihan, Tuhan menyembuhkan orang buta dan orang timpang dalam Bait Allah (ayat 14). Ini menunjukkan bahwa pembersihan Bait Allah membuat orang  mempunyai  daya  lihat  untuk  melihat  dan mempunyai kekuatan untuk bergerak sehingga mereka akan memuji Tuhan seperti anak-anak kecil (ayat 15) .

Ayat  17  menunjukkan  bahwa  Raja  Surgawi meninggalkan  Yerusalem  dan  bermalam  di  Betania (Mrk. 11:19; Luk. 21:37), lokasi rumah Maria, Marta, dan Lazarus, dan rumah Simon (Yoh. 11:1; Mat. 26:6). Di Yerusalem  Dia  ditolak  oleh  para  pemimpin  agama Yahudi, tetapi di Betania Dia disambut oleh orang-orang yang mengasihi diri-Nya. Banyak orang Kristen setelah menerima  Kristus  ke  dalam  mereka  dan  mengalami pembasuhan-Nya  dalam  roh  mereka,  mereka  tidak mencintai-Nya.  Sebab  itu  dalam  pengalaman  mereka Tuhan  meninggalkan  mereka.  Dalam  arti  yang  jelas, agama  hari  ini  adalah  Yerusalem  bagi  Tuhan  Yesus, bukan tempat Dia bermalam. Pencinta Kristus bukan di Yerusalem, melainkan di Betania. Dalam ayat 18, Tuhan lapar dalam perjalanan-Nya kembali ke kota. Kemudian Ia melihat pohon ara, tetapi tidak berbuah (ayat 19). Pohon ara di sini menunjukan simbol  bangsa  Israel  (Yer.  24:2,  5,  8).  Pada  saat  itu bangsa  Israel  penuh  dengan  penampilan  lahir,  tetapi tidak memiliki apa-apa untuk memuaskan Allah.Karena  pohon  ara  tersebut  tidak  berbuah, menyebabkan pohon ara itu dikutuk oleh Tuhan (ayat 19). Ini melambangkan kutuk atas bangsa Israel. Sejak saat  itu,  bangsa  Israel  benar-benar  kering.  Menurut pengalaman kita, karena kita tidak berbuah, kita menjadi kering. Ketika seseorang menjadi kering, maka rohnya tidak  berfungsi.  Jika  roh  kita  tidak  dibersihkan  untuk memberi Allah  penyembahan  yang  tepat  dan  berbuah bagi  kepuasaan-Nya,  kerajaan  juga  akan  diambil  darikita dan diberikan kepada orang lain. Ayat 20-22 menunjukkan bahwa Tuhan mengutuk pohon  ara  oleh  iman.  Doa  yang  penuh  iman  dapat memindahkan gunung yang menghalangi.

(70)