Pembacaan Alkitab: Mat. 22:1-14

RAJA SURGAWI DIUJI (2)

Dalam berita ini kita akan melihat perumpamaan tentang perjamuan kawin yang tercatat dalam Matius 22:1-14. Ayat 2 mengatakan bahwa seorang raja mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Raja di sini ialah Allah dan Putranya ialah Kristus. Perumpamaan ini menggambarkan bagaimana umat kerajaan akan ditanggulangi dengan ketat. Perumpamaan sebelumnya, perumpamaan kebun anggur  dalam pasal 21 menggambarkan berjerih lelah di bawah hukum Taurat, sedangkan perumpamaan perjamuan kawin menggambarkan kenikmatan di bawah anugerah.

Dalam perumpamaan ini, Raja berkali-kali mengutus hamba-hamba-Nya memanggil orang-orang untuk menghadiri perjamuan kawin (ayat 3-4). Sekalipun segala sesuatu telah disediakan dan walaupun hamba-hamba telah berkali-kali pergi, orang-orang menolak datang, bahkan menangkap hamba-hamba-Nya, menyiksa mereka, dan membunuh mereka (ayat 56). Karena itu raja mengutus pasukan-Nya untuk membinasakan para pembunuh dan membakar kota mereka (ayat 7). Setelah rasul ditolak dan dibunuh, Tuhan mengutus pasukan Romawi di bawah Titus untuk menghancurkan Kota Yerusalem. Titus membunuh sejumlah besar orang Yahudi, khususnya para pemimpin. Inilah penggenapan sepenuhnya akan nubuat Tuhan dalam perumpamaan ini. Fakta bahwa pasukan di sini dilukiskan sebagai pasukan raja menunjukkan bahwa semua pasukan di bumi adalah pasukan Tuhan.

Setelah penghancuran Yerusalem, Allah berpaling dari orang Yahudi kepada dunia kafir. Dalam ayat 8-9 raja mengutus hamba-Nya ke persimpanganpersimpangan jalan untuk mengundang orang-prang untuk menghadiri perjamuan kawin. Karena orang Yahudi menolak Injil, maka mereka tidak layak menikmati Perjanjian Baru (Kis. 13:46). Sebab itu, pemberitaan perjanjian baru beralih kepada orang kafir (Kis. 13:46; Rm. 11:11).

Banyak orang, yang jahat maupun yang baik, datang ke perjamuan kawin (ayat 10). Ketika raja itu masuk, ia menjumpai seorang tidak berpakaian pesta (ayat 11). Seorang ini pasti adalah seorang yang telah beroleh selamat. Sekalipun orang dalam ayat 11 adalah yang dipanggil dan diselamatkan, namun ia masih belum mengenakan pakaian pesta.

Pakaian pesta ini dilambangkan dengan pakaian bersulam dalam Mazmur 45:15 dan dilambangkan dengan kain lenan halus dalam Wahyu 19:8. Inilah kebenaran yang unggul dari kaum beriman pemenang dalam Matius 5:20. Dia telah menerima Kristus sebagai kebenarannya sehingga dia dapat dibenarkan di hadapan Allah (1 Kor. 1:30; Rm. 3:26), tetapi dia tidak memperhidupkan Kristus sebagai kebenaran subjektifnya (Flp. 3:9), dia tidak dapat berbagian dalam kenikmatan atas Kerajaan Surga yang hanya diberikan kepada kaum beriman pemenang.

Pakaian pesta melambangkan bahwa kita bersyarat berbagian dalam perjamuan kawin. Lenan halus putih dalam Wahyu 19 ialah pakaian pesta dalam Matius 22. Lenan halus putih melambangkan kebenaran yang unggul (Mat. 5:20). Kita semua telah memiliki jubah yang pertama, jubah yang membuat kita bersyarat untuk diselamatkan. Jubah ini ialah Kristus yang objektif yang kita terima sebagai kebenaran kita di hadapan Allah. Tetapi setelah menerima Kistus kita perlu memperhidupkan-Nya sehingga Kristus dapat menjadi kebenaran kita yang subjektif. Kebenaran yang subjektif ini diperhidupkan Kristus melalui kita dalam kehidupan kita tiap hari, adalah lenan halus putih, jubah yang kedua, pakaian pesta yang menyebabkan kita bersyarat berbagian dalam perjamuan kawin.

Perkara-perkara kecil dalam kehidupan sehari-hari kita menyingkapkan apakah kita hidup oleh Kristus atau tidak. Bila kita ceroboh dalam kehidupan kita seharihari, kita tidak hidup oleh Kristus. Jika kita hidup dengan kendur dan sembarangan, kita bukan orang yang berpakaian pesta.

Ayat 12-13 menunjukkan bahwa orang yang tanpa pakaian pesta dicampakkan ke dalam kegelapan. Dicampakkan ke dalam kegelapan, di luar, kegelapan yang paling gelap, bukan berarti binasa, melainkan ditanggulangi berdasarkan zaman, tidak diizinkan berbagian dalam kenikmatan atas kerajaan selama seribu tahun. Pada masa itu, kaum beriman pemenang akan beserta Kristus dalam kemuliaan kerajaan yang terang (Kol. 3:4), sedangkan kaum beriman yang kalah akan menderita pendisiplinan dalam kegelapan yang di luar.

Tuhan Yesus tidak hanya mengatakan kegelapan, tetapi kegelapan yang paling gelap. Ketika Tuhan Yesus kembali, Ia akan datang dalam kemuliaan. Di angkasa, Tuhan akan mendirikan takhta penghakiman-Nya, setelah orang beriman diadili, yang gagal akan dimasukkan dalam kegelapan yang paling gelap. Ini menunjukkan kegelapan yang di luar area kemuliaan Tuhan.

Dalam ayat 14 Tuhan menyimpulkan: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.” Dipanggil adalah menerima keselamatan (Rm. 1:7; 1 Kor. 1:2; Ef. 4:1), sedangkan dipilih adalah menerima pahala. Para pemenang, kaum yang terpilih, akan menerima pahala dan bersyarat untuk berbagian dalam perjamuan kawin Anak Domba.

(83)