Pembacaan Alkitab:  Mat. 22:15-22

RAJA SURGAWI DIUJI (3)

Setelah Tuhan Yesus diuji oleh imam-imam kepala dan tua-tua tentang sumber kekuasaan-Nya, murid-murid orang Farisi dan para pendukung Herodes bertanya kepada-Nya tentang membayar pajak kepada Kaisar (22:15-22). Jika Tuhan Yesus mengatakan membayar pajak itu diperbolehkan, Dia akan diserang oleh semua orang Yahudi. Jika Dia mengatakan hal itu tidak boleh, para pendukung Herodes yang memihak pemerintah Romawi akan mendapat dasar yang kuat untuk menuduh-Nya.

Namun Tuhan Yesus sangat berhikmat. Dalam ayat 19 Ia berkata, “Tunjukkanlah kepada-Ku mata uang untuk pajak itu.” Ayat 20-21 mengatakan, “Ia bertanya kepada mereka, ‘Gambar dan tulisan siapakah ini?’ Jawab mereka, ‘Gambar dan tulisan Kaisar.’ Lalu kata Yesus kepada mereka, ‘Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.’” Memberi kepada Kaisar sesuai dengan apa yang menjadi milik Kaisar berarti membayar pajak kepada Kaisar menurut peraturan pemerintahannya. Membayar kepada Allah sesuai dengan apa yang menjadi kepunyaan Allah ialah membayar setengah syikal kepada Allah menurut Keluaran 30:11-16, dan mempersembahkan sepersepuluh dari semuanya kepada Allah menurut hukum Allah. Jawaban ini mengejutkan orang Farisi dan orang Herodian, dan mereka dikalahkan.

Dalam 22:23-33 kita nampak Tuhan diuji oleh orang-orang Saduki. Orang-orang Saduki adalah orang-orang modern zaman kuno yang tidak percaya kebangkitan (Kis. 23:8). Mereka bertanya tentang kebangkitan. Mereka bertanya tentang seorang perempuan yang telah menikah dengan tujuh orang saudara, dengan pertanyaan, “Siapakah di antara ketujuh orang itu yang menjadi suami perempuan itu pada hari kebangkitan? Sebab mereka semua telah beristrikan dia” (ayat 28).

Yesus menjawab, “Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah!” (ayat 29). Kitab Suci di sini mengacu kepada ayat-ayat Perjanjian Lama yang menyinggung perkara kebangkitan, dan kuasa Allah mengacu kepada kuasa kebangkitan. Dalam jawaban-Nya kepada orang Saduki, Tuhan melakukan empat perkara: pertama, Ia mempersalahkan mereka; kedua, Ia menegur mereka; ketiga, Ia mengajar mereka; dan keempat, Ia membungkam mulut mereka. Dalam ayat 30 Ia berkata, “Karena pada waktu kebangkitan, mereka tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di surga.”

Karena Allah adalah Allah orang hidup dan disebut Allah Abraham, Allah Ishak, dan Allah Yakub, maka tiga orang yang telah mati ini akan bangkit. Inilah cara Tuhan Yesus menerangkan Kitab Suci — bukan hanya berdasarkan huruf, tetapi juga berdasarkan hayat dan kuasa yang tersirat di dalamnya.

Kemudian seorang ahli Taurat bertanya untuk mencobai Tuhan mengenai hukum mana yang terutama dalam hukum Taurat. Tuhan mengatakan bahwa hukum yang terbesar dan terutama ialah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, dan segenap akal budi kita (ayat 37-38). Kemudian Ia melanjutkan, “Perintah yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua perintah inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Kedua perintah ini, perintah untuk mengasihi Allah dan perintah untuk mengasihi manusia, adalah perkara kasih. Kasih adalah roh dari perintah Allah.

Setelah Tuhan Yesus ditanyai, Ia bertanya kepada orang-orang Farisi, “Apakah pendapatmu tentang Mesias?” (ayat 41-42). Pertanyaan atas segala pertanyaan ini harus dijawab oleh setiap orang. Hari ini orang-orang mempunyai banyak pertanyaan, tetapi semua pertanyaan mereka dapat digolongkan menjadi empat kategori: agama, politik, kepercayaan, dan hukum Taurat.

Hari ini pun orangorang memperhatikan perkara-perkara ini, bukan memperhatikan Kristus. Ketika orang-orang Farisi ditanyai pertanyaan ini oleh Tuhan, mereka menjawab bahwa Kristus adalah anak Daud (ayat 42). Kemudian Tuhan berkata, “Jika Daud menyebut Dia ‘Tuan’, bagaimana mungkin Ia anak-Nya pula?” (ayat 45). Ini adalah sebuah pertanyaan yang orang-orang Farisi tidak tahu bagaimana menjawabnya. Kristus adalah Allah; dalam keilahian-Nya Dia adalah Tuhan Daud. Dia juga seorang manusia; dalam keinsanian-Nya Dia adalah Anak Daud.

Ayat 46 mengatakan, “Sejak hari itu tidak ada seorang pun yang berani menanyakan sesuatu kepada-Nya.” Pertanyaan dari segala pertanyaan yang diajukan oleh Kristus mengenai persona-Nya yang ajaib, membungkam mulut semua penentang-Nya.

Alangkah ajaib-Nya Kristus itu! Dia adalah Allah juga manusia, Anak Allah juga anak Daud. Selain itu, Ia berada di surga, Ia juga berada di dalam kita. Hari ini kita harus mengetahui betapa limpahnya dan takkan habisnya Tuhan Yesus sebagai Anak Daud dan Anak Allah. Oleh karena Kristus adalah Sang almuhit, maka kenikmatan akan Dia takkan habis. Kita perlu menyembah Dia, menerima Dia masuk, menikmati Dia, dan mengalami Dia sebagai Yang ajaib.

(12)